Makanan Dijadikan Obat Mayoritas Memberi Hasil Mengecewakan
“Saya sakit jantung, baiknya makan buah apa ya?” “Katanya kalau kena kanker bisa sembuh kalau minum rebusan akar benalu” “Abis luka operasi sebaiknya makan ikan gabus biar cepet sembuh” Saya sering sekali menerima pertanyaan atau masukan tentang ini. Kalau ditanya percaya atau tidak? Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Tapi kalau ditanya apakah saya menyarankan sebaiknya ini semua dilakukan atau tidak?
Saya akan menggelengkan kepala
Maraknya Paham Makanan Dijadikan Obat
Makanan dijadikan obat sebenarnya kesimpulan salah kaprah dari kalimat terkenal dari bapak kedokteran modern Hippocrates, seorang ahli kesehatan yang lahir sekitar 400 tahun sebelum masehi, “let food be thy medicine and medicine be thy food” atau terjemahan bebasnya kurang lebih berbunyi “jadikan makananmu obat dan jadikan obatmu sebagai makanan” Dari sana lahir pemahaman bahwa makanan bisa dijadikan obat.
Paham ini lalu mendapatkan momentum positif seiring berkembangnya dunia kesehatan modern yang menemukan metode konvensional dengan penggunaan obat-obatan hasil industri farmasi ternyata memberi efek samping merugikan dalam jangka pendek maupun panjang. Kerusakan ginjal dan lever semisal. Di samping itu harganya juga dianggap relatif lebih mahal.Banyak orang mulai melirik konsep pengobatan tradisional yang diwariskan turun temurun. Beberapa cabang ilmu kesehatan juga mulai banyak melirik pada pemakaian resep-resep lama untuk meminimalisir interaksi pasien dengan obat farmasi kebanyakan. Di satu sisi fenomena ini seperti memberi pengaruh positif dari sisi semangat alami, kembali ke alam atau sejenisnya. Tapi dari sisi hidup sehat, benarkah?
Hasilnya Mengecewakan
Sebenarnya fenomena ini bukan fenomena hidup sehat. Sekedar kembali ke bahan natural dengan konsep makanan sebagai obat mirip dengan upaya mengubah konsumsi obat farmasi ke obat herbal, saya pernah menulis di sini. Mirip dengan konsep minum obat herbal, makan sesuatu yang dianggap natural dan digunakan sebagai obat sebenarnya sama saja dengan membiarkan diri sakit dulu, baru bereaksi minum obat belakangan.
Obat ya tetap saja obat, waktu dikonsumsi belakangan saat sudah sakit duluan, judulnya sudah terlambat. Obat juga tetap saja obat, konsumsi dalam jumlah berlebihan dan itu-itu saja, akan menimbulkan penumpukan unsur tertentu dalam tubuh. Seperti contoh kasus orang yang berusaha mengkonsumsi wortel dalam jumlah banyak, karena ia mendengar sayuran satu ini adalah salah satu bentuk makanan super. Tentu saja upaya ini tidak diikuti dengan upaya makan sehat seimbang lainnya. Belakangan yang terjadi adalah kulit tubuhnya menguning. Gejala ini bernama karotenemia, berarti tubuh menderita penumpukan beta karoten semacam pigmen organik, yang dalam jumlah tepat dianggap memiliki kekuatan antioksidan, baik bagi tubuh. Tapi bila berlebihan, kerja lever dan ginjal ditengarai bisa terganggu.Jatuh sakit lalu berharap makanan ajaib akan bisa menyembuhkan sering berujung hasil yang mengecewakan. Kecepatan kerja makanan dan obat farmasi jelas berbeda. Bagi mereka yang bermental tidak tepat, kekesalan serta rasa kecewa adalah hal yang acap ditemui saat makan sehat dianggap sebagai pengganti obat.
Perbaiki Pola Hidup
Tubuh manusia adalah satu sistem yang terangkai satu sama lain. Tidak ada satu organ yang bisa berdiri mandiri tanpa interaksi dengan organ lain. Itu sebabnya rusaknya satu organ biasanya akan mempengaruhi banyak organ lain dan akhirnya merusak sistem keseluruhan.
Apa yang Anda makan setiap hari adalah penentu kualitas hidup. Pemilihan apa yang dimakan dan metode memakannya juga adalah unsur mutlak penentu kualitas tersebut. Dengan tubuh selalu mendapatkan apa yang dibutuhkan, kualitasnya menjadi baik. Karena baik, kerusakan organ tidak mudah terjadi. Konektivitas antar organ juga baik. Bila semua terjaga, sistemnya pun tentu akan baik. Sehat adalah hasil dari cara Anda memelihara kesehatan sehari-hari, makan yang benar adalah garda terdepan dari pemeliharaan ini.Abai memelihara, jatuh sakit, lalu berharap pada makanan super bisa menjadi obat, jelas potensial gagal. Bisa jadi karena organ tubuh penting sudah keburu rusak, sistemnya tidak lagi mendukung dan banyak lagi variabel penghambat lainnya. Hal sama juga bisa terjadi saat rutin mengkonsumsi makanan dianggap obat tapi abai menjaga asupan makanan lainnya dalam konteks perawatan. Seperti sudah kita bahas sebelumnya.
Makanan dianggap obat seperti saran Hippocrates harus dipahami secara menyeluruh. Tidak separuh-separuh! Makanlah secara benar dalam wujud pola hidup terjaga. Saat Anda sakit, buat perubahan pola hidup yang disertai komitmen, dikerjakan konsisten. Seumur hidup!




Comments
Post a Comment