Skala Prioritas Kesehatan
Saya nyengir mendengar seorang teman sibuk membicarakan pentingnya peran satu jenis vitamin yang sedang naik daun. “Konsumsi sekian ribu IU perhari, badan jadi sehat. Gak bakalan kena Covid” Katanya mirip sales vitamin sedang berjualan. Kenapa saya nyengir? Karena saya tahu mekanisme tubuh. Konsumsi substansi apapun dalam jumlah bombastis pasti akan memberi efek samping bagi kesehatan, cepat atau lambat.
Tapi ya males juga berusaha menyadarkan orang yang lagi menggebu-gebu begini. Gak bakalan didengerin. Buang waktu saja. Jadi saya tinggal teman yang sedang menggebu-gebu, biar orang lain yang mendengarkan.
Hukum Harmoni
Ada salah satu pendapat yang mengatakan kehidupan manusia sebenarnya mirip dengan kelangsungan alam semesta. Amat erat kaitannya dengan harmoni. Keseimbangan. Sesuatu yang mendominasi di satu sisi biasanya akan mendatangkan kompensasi di sisi lain. Misalnya, sinar matahari adalah sumber energi bagi banyak kehidupan tumbuhan. Hampir semua tanaman sulit tumbuh dan hidup tanpa pasokan sinar matahari sesuai kecukupan. Tapi apa jadinya bila sinar matahari bersinar terik serta berlebihan? Tanaman akan mati kekeringan. Banyak hal serupa berlangsung di sekitar kita. Kebutuhan air, oksigen, makanan, dan lain sebagainya. Semua harus sesuai harmoni, bila kurang atau berlebihan akan menghasillkan masalah.
Hal sama berlaku juga bagi kesehatan tubuh manusia. Sesuatu yang dikonsumsi berlebihan, walau atas nama kesehatan pun, pasti akan menghasilkan masalah jangka pendek atau panjang. Mulai dari penumpukan unsur yang potensial merusak sistem atau organ vital tubuh hingga membebani kerja organ regulator seperti lever dan ginjal.Kenapa saya meninggalkan teman saya yang sedang berkhotbah tentang manfaat konsumsi vitamin dalam jumlah masif? Karena saya tahu efek buruknya bagi lever serta ginjal. Saya malah pernah membantu seorang teman dekat yang fungsi ginjalnya terganggu akibat kena ‘disetani’ ahli kesehatan kepercayaan dia untuk banyak mengkonsumi sejenis vitamin. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya sekian ribu IU (Interational Unit, satuan unit vitamin) berkali lipat standar normal manusia. Setengah mati teman saya ini mengembalikan kesehatannya supaya bisa pulih kembali.
Rawat Yang Besar Yang Kecil Akan Mengikuti
“Jadi sebenarnya manusia gak perlu vitamin sebanyak itu?” Istilah kesehatan untuk gizi saja sebenarnya adalah Micronutrient. Perhatikan saja kombinasi dua kata mikro dan nutrien, yang bila dikombinasikan berarti “unsur nutrisi berbasis mikro” Butuhnya tidak banyak-banyak, mikro saja. Tapi kalau kekurangan tubuh akan mengalami masalah. Apalagi kalau tidak ada, ya lebih bermasalah lagi. Problemnya kalau ketakutan berlebihan tentang “kekurangan” atau “tidak ada” dikonversi menjadi memberi asupan di atas normal, ya yang muncul tetap masalah juga. Karena menyalahi prinsip harmoni yang kita sebutkan di awal.
Kekurangan atau kelebihan unsur itu tidak akan terjadi kalau kita patuh pada hukum prioritas. Apa yang menjadi kebutuhan utama? Penuhi dulu. Lalu yang sekunder, lalu yang tersier, semua akan menjadi harmoni kalau itu dilakukan. Menghindari juga begitu. Hindari yang primer, hindari yang sekunder, dan lalu hindari yang tersier, Semua aka nada dalam harmoni bila ini dilakukan.
Pelaku makan sehat sejati seperti pelaku Food Combining (FC) atau diet sejenisnya. Tidak akan risau masalah vitamin anu, itu, atau apa. Mereka fokus pada hal utama yang harus dikonsumsi dan hal utama yang harus dihindari, dan kemudian harmoni terjadi. Saat itu terpenuhi, kualitas kesehatan dan kehidupan hadir sendiri. Pelaku FC, yang benar, tidak pernah mengalami defisiensi unsur tertentu yang mengganggu kesehatannya. Apa yang mereka makan sudah memenuhi itu semua. Walau tidak rempong merasa harus memenuhi hal-hal kecil demi tujuan tertentu, karena dengan mengkonsumsi yang benar sesuatu yang lebih besar terawat. Otomatis hal-hal kecil akan mengikuti sendiri.Pelaku FC tidak pernah mengalami sembelit misalnya. Padahal mereka tidak pernah riweuh mengurusi berapa gram serat yang mereka konsumsi setiap hari. Kenapa? Makanan sarat buah dan sayur yang mereka adaptasi dalam menu keseharian juga sudah sarat akan serat. Hal kecil mengikuti hal besar. Sehat itu mudah, asal kita patuh pada harmoni.
Comments
Post a Comment