Kendalikan Kanker Kendalikan Pola Makan


Seseorang mendengar cerita tentang penanganan kanker ibu saya. Dia menghubungi dan terjadilah percakapan ini.

“Saya kena kanker *sebut bagian tubuh* saya juga mau dong diterapi seperti ibu Anda”

“Saya bukan terapis. Yang ibu saya lakukan dan banyak pelaku sejenis adalah mengubah gaya hidup, terutama pola makan” Jawab saya

“Maksudnya mengubah pola makan?”

“Meninggalkan kebiasaan buruk makan yang selama ini dijalani, dan mengadopsi pola makan baru yang bisa menekan perkembangan sel kanker 

“Kenapa harus pola makan baru? Memangnya ada hubungannya dengan kanker? Bukannya kanker karena genetik”

“Sangat berhubungan! Dan makin banyak penelitian yang menemukan genetik bukan isu utama kanker, misalnya ada yang menemukan cuma sekitar 5 persen atau kurang sebagai penyebab kanker”

“Memangnya gak bisa diterapi tapi saya tetap makan seperti biasa selama ini”

“Saya bukan terapis apalagi tukang sulap!”

--------- 

Suka atau tidak suka konsep menghadapi kanker dengan mengedepankan pengubahan gaya hidup, terutama pola makan, ya harus begini. Mengesampingkan pakem atau doktrin yang selama ini berkembang di kalangan penderita kanker atau penyakit berat lainnya, “Ini masalah genetik”, “Makan apa saja yang pentingnya hati bahagia”, “Penyakit ini tidak ada hubungannya dengan makanan” dan doktrin sejenis lainnya.



Kita Adalah Apa Yang Dimakan
Kanker sering dianggap sebagai penyakit genetik, tidak terelakkan. Bila kerabat kita terkena, bersiap-siap saja untuk ikutan terkena. Ini sudah menjadi hukum tidak tertulis yang diamini oleh banyak pihak, termasuk kebanyakan ahli kesehatan sekalipun. Benarkah demikian?
Sudah banyak sekali penelitian yang menunjukkan sebaliknya. Seperti temuan Anand P Kunnumakkara AB yang dipublikasikan di US National Library of Medicine National Institutes of Health bahwa “Kanker Adalah Penyakit Yang Bisa Dicegah (Diobati) Dengan Pengubahan Gaya Hidup

Apa itu pengubahan gaya hidup? Mungkin variannya akan banyak sekali bila dibahas satu persatu. Mulai dari lingkungan hidup, pola makan-minum, istirahat, olahraga, stres dan lain sebagainya. Banyak! Dan bisa jadi merepotkan bila dibahas satu persatu. Itu sebabnya lebih mudah bila dilihat dari skala prioritas. Manusia hidup dari dua aspek yang paling utama, primer. Tanpa dua elemen ini manusia mustahil bertahan hidup. Yang pertama oksigen untuk bernafas, dan yang kedua makan serta minum. Di luar itu kebutuhannya bersifat sekunder. Bila tersedia bagus tapi bila tidak ada manusia tetap bisa hidup.

Oksigen itu bergantung pada lokasi di mana kita berada. Jumlahnya tidak terbatas di seluruh penjuru bumi. Kita tidak bisa mengendalikan oksigen yang kira hirup, kadang kita hanya bisa menerima begitu saja kualitas oksigen di mana pun kita berada. Bagaimana dengan makan dan minum? Nah ini berbeda. Tubuh manusia dibentuk secara akumulatif dari apa yang dimakan dan diminum. Bila baik, dalam artian sesuai kapasitas serta kebutuhan tubuh, tentu tubuhnya juga akan baik secara menyeluruh. Bila buruk? Dalam konteks makan tidak sesuai cara kerja serta apa yang diperlukan, ya jangan heran bila kualitas tubuhnya ikut memburuk.

Bila tubuh Anda adalah manifestasi dari apa yang selama ini dimakan, otomatis logika sama juga berlaku untuk penyakit yang diderita. Penyakit apapun yang diderita adalah juga manifestasi dari apa yang dimakan secara rutin. Termasuk kanker.



Kendalikan Kanker Dengan Mengatur Pola Makan
Semoga paparan tersebut bisa membuat paham kenapa saya bersikap pesimistis pada mereka yang menolak memperbaiki pola makan saat berurusan dengan kanker. Untuk itu sudah banyak sekali tulisan tentang kanker dan pola makan  saya buat. Mudah sekali mencarinya.

Kanker adalah sel yang bersifat radikal. Ia mempunyai sifat berbeda dari sel lainnya karena memiliki pemicu. Sejauh ini kita paham bahan pembentuk sel paling mendasar adalah makanan-minuman. Bila bahan pembangunnya baik, ya sel otomatis akan baik. Bila buruk? Tentu hukum sama berlaku, kualitas sel akan buruk. Sel kanker mudah sekali terbentuk dari kualitas sel yang buruk. Apa yang selama ini dimakan bisa jadi seperti menabung dalam celengan. Dan dalam kasus ini celengan tersebut bernama kanker.


Makanan berbasis protein hewani, proses panjang, dipanaskan dalam waktu lama, pabrikan, miskin unsur hidup, dan sejenisnya sudah lama ditengarai identik dengan memicu perkembangan sel kanker. Minuman seperti kopi, teh, susu, sirup, soda, hingga alkohol juga memiliki logika kurang lebih sama. Belum ditambah kebiasaan buruk seperti merokok, minum obat-obatan secara reguler dan lain sebagainya.

Sebaliknya banyak sekali mereka yang mengubah pola makan minumnya agar sesuai dengan kapasitas serta kebutuhan tubuh secara disiplin berkomitmen kuat menemukan kualitas kesehatan mereka meningkat drastis. Sel kanker sulit berkembang, bahkan beberapa menghilang. Dan yang terpenting kualitas hidupnya kembali didapatkan. 

Kendali atas kanker hanya bisa terjadi bila kita mengatur apa yang kita makan. Menghentikan apa yang buruk dan tidak sesuai dengan kebutuhan serta kapasitas tubuh terbukti mampu membuat sel kanker kehilangan ‘bahan bakar’ untuk bertahan hidup hingga berkembang biak. Itu sebabnya nyaris mustahil kanker bisa dikalahkan secara permanen bila pola makan tidak mau dikendalikan. Klaim sembuh mungkin bisa didapat lewat serangkaian pengobatan misalnya. Sel kanker bisa dimusnahkan dan dimatikan. Tapi kualitas hidup? Dengan rusaknya banyak sel-sel penting tubuh, biasanya kualitas hidup ikut menurun drastis. Belum lagi potensi sel kanker akan kembali muncul akibat pola makan buruk yang tidak dikoreksi. 


Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ibu Saya & Kanker Paru-parunya

Tentang Diabetes dan Hidup Normal

BERAS PUTIH SI PEMBAWA PETAKA