Meditasi dan Perjalanan Saya Pribadi


Sekian tahun saya belajar yoga,  beragam pengalaman unik dengan meditasi saya alami. Awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan sesi, yang sebenarnya mendominasi dunia yoga, ini. Namanya juga cuma paham yoga sebatas kulit, sebagai aktivitas fisik yang penuh aksi, di awal. Buat saya, siapa juga bisa duduk bersila, memejamkan mata, dan menarik nafas keluar masuk. Gak istimewa! Bandingkan dengan yoga, yang saya tahu saat itu, semisal berdiri terbalik dengan beralaskan kepala, itu kan aksi yang keren! Bisa membuat orang tertarik dan kagum. Jaman itu belum tren sosial media, bayangkan kalau jaman itu sudah ada sosmed, pasti akun saya dipenuhi oleh foto dan video saya pamer aksi beryoga.

Perjalanan mempelajari yoga perlahan mulai mengubah pandangan saya tentang meditasi. Bahwa yoga dan meditasi itu sangat terintegrasi. Bahkan saat saya semakin serius mempelajari yoga dan mengenal konsep Astanga Yoga (Delapan Anak Tangga Yoga) yang diperkenalkan oleh maestro Patanjali. Di sana saya paham yoga yang saya kenal, asana, cuma mengambil satu aspek dari sekian banyak anak tangga dalam peryogaan. Sementara yang terkait meditasi mendominasi melebihi separuh dari semua aspek yang ada. Sejak saat itu pandangan saya terhadap meditasi berubah. Dan mulai intens mempelajari. 


Tentang Astanga Yoga

Buat yang belum familiar dengan konsep astanga yoga. Sekilas informasinya, sang maestro yoga, Patanjali menulis dalam karya master piece-nya Yoga Sutra tentang 8 tingkatan untuk menguasai yoga, yaitu: Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, dan Samadhi. Sebagai pelaku tradisi Iyengar Yoga, saya meminjam kalimat guruji BKS Iyengar dalam menerjemahkan definisi dari astanga yoga : “Tahapan ini bersifat esensial bagi manusia, terutama pelaku yoga secara individu. Setiap tahapan harus dipahami dan diikuti agar tujuan utama Astanga Yoga tercapai, kemerdekaan diri”

Yama prinsip etika kehidupan, mengacu ke hubungan eksternal antara seorang individu dan sekelilingnya, alam semesta. Secara sederhana acap diterjemahkan dengan sikap welas asih, tidak menyakiti orang lain, dan sejenisnya. 

Niyama prinsip serupa Yama, namun mengacu kepada diri sendiri. Tidak merusak diri, jujur, mengikuti kata hati dan lainnya

Asana serangkaian latihan postural bagi pelaku yoga untuk mendapatkan kualitas tubuh yang sehat dan menjadi tempat ideal bagi ruh bersemayam

Pranayama latihan pernafasan untuk mendisiplinkan tubuh dan pikiran

Pratyahara kemampuan melepaskan diri dari godaan dunia luar dan kendali penuh atas fungsi indera tubuh

Dharana fokus pada hal diinginkan dengan konsentrasi terkendali tingkat tinggi

Dhyana kemampuan meningkatkan konsentrasi dalam jangka waktu tertentu hingga mencapai tujuan yang diinginkan

Samadhi saat sekat-sekat yang membatasi kehidupan bisa dikendalikan hingga yang tersisa hanya koneksi dengan ruh diri. Beberapa mengkaitkan ruh dengan sang Maha Pencipta.

Bisa dilihat di sana elemen meditasi mendominasi mulai dari poin ke empat hingga ke delapan. Dan memahaminya bukan perkara mudah, bagi nalar dan akal saya yang terbatas, bahasa guruji Iyengar menerjemahkan pemikiran Patanjali bisa jadi sangat kompleks untuk diceritakan ulang. 

Untuk itu saya pernah mendapatkan pencerahan sederhana dari salah satu murid utama beliau, Sri Birjoo Mehta. “Memahami tingkatan meditasi memang tidak mudah, gunakan saja analogi matahari untuk lebih mudah memahami”. Ia menggambarkan Pranayama sebagai momen saat kita menyadari eksistensi matahari dengan sekedar melihat sinar terangnya, walau kita berada di tempat teduh. Kemudian eksistensi dari matahari itu kita tingkatkan dengan merasakan sendiri sinarnya memberi rasa hangat di tubuh kita sebagai manifestasi dari Pratyahara. Setelah itu di level Dharana kita menyadari sumber sinar dan hangat adalah sang matahari. Di saat kemampuan fokus pada kesadaran dan keberadaan matahari ada di level tertinggi kita memasuki entitas Dhyana. Dan pada akhirnya saat kita seakan mampu menjadi satu dengan matahari, kita sudah memasuki level Samadhi.

Apa yang disampaikan Birjooji (demikian panggilan hormat kami) tentu tidak 100 persen akurat menggambarkan analogi meditasi dalam Astanga Yoga, tapi setidaknya bisa memudahkan kita memahami perbedaan transisi dari satu tingkatan ke tingkatan lainnya.


Kesiapan Tubuh 

Tapi pandangan saya tentang meditasi berubah lagi, saat sedang belajar intens dengan salah satu guru Iyengar primer saya, Cle Souren. Kepala institur Iyengar Amsterdam ini, juga salah satu murid utama guruji Iyengar. Dia mengatakan, intensitas tinggi berlatih meditasi tanpa dibekali tubuh yang siap, bisa memberi efek merusak.

“Saya melihat orang yang berlatih meditasi secara intensif lalu mengalami problem kesehatan yang serius. Gangguan sistem syaraf misalnya” Jelasnya. “Ah lebay nih, Cle” Dalam hati saya menyangsikan. “Mosok latihan nafas aja sampe segitunya” Saat saya melihat beliau dengan alis mata mengernyit, murid senior Iyengar gelombang pertama dari dunia barat ini menukas lagi, “Kamu pikir kenapa asana ada di nomer tiga sebelum pranayama dan seterusnya? Tanpa postur tubuh yang mendukung, bagaimana seseorang bisa bernafas dengan baik?” Lalu ia mengutip tulisan guruji di salah satu bukunya. Meditasi membutuhkan koordinasi kerja struktur tulang dan otot punggung yang prima. Agar seseorang bisa duduk tegak, dan memungkinkan kerja otot diafragma leluasa mendukung fungsi paru-paru menarik dan mengeluarkan nafas. Masuk akal sih. Tapi saya masih sulit percaya begitu saja.

Saya baru kena batunya saat melihat sendiri satu bukti ucapan Cle di seseorang yang mengikuti kelas saya. Seorang wanita penghujung usia 20-an, bertubuh sangat kurus, selalu gemetar, dan tubuhnya sulit sekali berkoordinasi satu sama lain, terutama saat berlatih asana yoga. Dia menghampiri seusai kelas dan menanyakan solusi bagi kondisinya. Saya, di awal, tidak terbersit bahwa ketidak siapan tubuh dan meditasi bisa jadi biang keladi masalah wanita ini, sampai ia sendiri mengemukakan kebiasaannya, “Saya kalau latihan yoga kayak gini mungkin payah ya? Tapi kalau meditasi saya kuat bisa berjam-jam tanpa henti” Lalu saya bertanya “Apa kamu rutin meditasi?” Dia menjawab yakin “Bisa dua kali sehari” DEG! Jantung saya berdegup kencang! Di situ saya merasa durhaka sekali pada guru saya. “I am sorry for doubting you, Cle

 

Berlatih Rutin

Imbas kejadian itu mempengaruhi intensitas berlatih meditasi saya. Bertahun-tahun saya menjadi lengah, kalau tidak bisa dibilang malas, melatih aspek vital ini. Saya akhirnya kena tegur oleh guru primer lain saya, Sri Nanda Kumar, beliau mewakili generasi muda awal 90-an yang menjadi murid langsung dari guruji Iyengar. Sebagai generasi muda, dia sangat cerdas dan kritis. Konon yang menjadi alasan kenapa guruji sangat menyayangi dirinya. “Hanya karena kamu tahu aspek negatif dari meditasi, bukan berarti kamu harus berhenti melakukan” Tukasnya pada saya dalam satu diskusi ngalor ngidul intensif. Satu hal yang sering kami lakukan berdua. “Justru itu yang seharusnya menjadi pemicu kamu melakukan latihan sebaik mungkin, agar imbas negatif dari meditasi tidak terjadi. Hanya manfaat positif yang bisa dipetik!” Omelan ini mengena pada saya dan mengubah konsep latihan harian saya sesudahnya.

Nandaji dikenal juga sebagai salah satu praktisi Iyengar yang sangat menguasai teknik meditasi. Beragam trik acap ia bagikan pada kami muridnya tentang  relasi dari asana ke meditasi. Mulai dari hal mendasar menyehatkan tulang punggung dengan stimulan asana berbasis Back Bending (melengkungkan tulang punggung  ke belakang), Forward Bending (memanjangkan tulang punggung ke depan), Inversion (membalikkan tubuh) dan Twisting (memelintir tulang punggung). Tapi semua itu nisbi hasil bila kita tidak memiliki struktur tubuh yang baik, untuk itu ia sangat menekankan pada latihan struktur kaki yang intensif dengan serangkaian Standing Poses (berdiri) yang dilatih berulang. Kalau tidak bisa dibilang menyakitkan dan bisa jadi membosankan bagi sebagian orang.

Di level yang lebih advance, Nandaji juga membagikan trik melatih duduk meditasi yang memudahkan kita mengontrol nafas. Mulai dari fokus pada teknik duduk virasana, badda konasana, padmasana dengan beragam alat bantu hingga mencapai kemampuan maksimal. Menguasai teknik ini ternyata bisa dikonversikan menjadi peningkatan sesi meditasi yang sangat berbeda secara kualitas. Ia juga mengajarkan aplikasi beragam teknik meditasi, seperti Ujjayi Pranayama keluar dari konsep menara gading, ekslusif hanya meditasi, menjadi sesuatu yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mentransformasikan teknik ini ke dalam fase meningkatkan konsentrasi, menurunkan tingkat kecemasan, hingga relaksasi secara lebih konkrit.

Kesimpulannya, dengan konsep yang tepat, berlatih meditasi itu sangat menyenangkan dan efektif dalam meningkatkan kualitas diri. Ini saya alami sendiri. Meditasi menjadi porsi latihan saya sehari-hari dan kadang juga menjadi bagian dari materi yang saya bagikan saat mengajar di kelas. Demikian perjalanan personal saya dengan meditasi


Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ibu Saya & Kanker Paru-parunya

Tentang Diabetes dan Hidup Normal

BERAS PUTIH SI PEMBAWA PETAKA