Kerugian Memasak Tumbuhan
Dalam acara apapun, terutama saat menjalani sesi sarapan, meja saya umum dikerubungi oleh teman-teman yang antusias menanyakan pola makan sehat. Atau setidaknya tergelitik oleh menu yang saya pilih. “Kenapa buah sih?”, “Itu kenapa sayurnya mentah semua?”, “Memangnya gak takut sakit perut kalau sayurnya mentah?”
Terlepas dari isu organik atau bukan, yang perlu sesi tersendiri, saya mungkin sudah seperti alat pemutar suara rusak yang berulang kali menyampaikan logika sederhana kenapa makanan utama manusia, tumbuhan, mayoritas harus dikonsumsi dalam keadaan segar. Menariknya, hampir setiap bahasan itu diulang, kerugian dari makanan dimasak ternyata memiliki perspektif yang berbeda-beda yang selalu menarik untuk dieksplorasi.
Memasak Merusak Energi Alam
Sudah sering dibahas, bahwa oksigen memiliki sifat ambigu, di satu sisi menghidupi, di sisi lain mematikan secara perlahan. Perusakan molekul saat bersentuhan dengan oksigen telah umum kita kenal dengan nama oksidasi. Kita terbiasa melihat daging buah-buahan menjadi menggelap pasca dikupas, makanan menjadi cokelat keemasan saat dimasak, bahkan hingga besi menjadi berkarat, Perusakan ini adalah bagian dari siklus alam.
Sayangnya kita tanpa sadar secara suka rela memasukkan itu semua ke dalam tubuh. Dengan alasan higienitas, hampir semua makanan di era ini umum melalui pemanasan dalam proses memasak. Akhirnya perusakan oksidasi terjadi secara masif dalam tubuh kita. Untungnya kita jawaban alami untuk itu, yaitu dengan mengkonsumsi anti oksidan, yang berlimpah terdapat dalam kesegaran makanan dari tumbuhan seperti sayuran dan buah. Masuknya antioksidan dari makanan bisa menghambat kerusakan yang ditimbulkan oksigen dalam sel. Kelebihan lain dari makanan segar adalah enzim. Unsur ini merupakan katalis, atau perantara, untuk semua reaksi kimiawi tubuh. Apapun yang dilakukan mahluk hidup melibatkan enzim, melihat, bernafas, bergerak, berbicara, dan lain sebagainya. Kekurangan enzim, membuat hidup kita menjadi terhambat efektivitasnya dalam beraktifitas. Karena tubuh harus mensiasati kekurangan tersebut seefisien mungkin.
Ingat, kehabisan cadangan enzim sama dengan kehabisan energi kehidupan. Berita baik dari fenomena ini, di masa sekarang banyak ahli kesehatan yang menemukan serta percaya bahwa makan tumbuhan segar menjadi penyumbang utama pelengkapan enzim tubuh. Sebagian percaya enzim tersebut bisa ditambah dari makanan yang disantap, sebagian percaya makanan kaya enzim akan membuat cadangan enzim tubuh bisa dihemat. Apapun versi yang dianut, hampir semua ahli tersebut meyakini, makan sesuatu yang kaya akan cadangan enzim, terbukti membuat tubuh menjadi lebih sehat dan kuat.
Berita buruknya antioksidan dan enzim rentan terhadap panas. Antioksidan rentan terhadap perusakan oksigen, yang menjadi elemen utama terbentuknya api. Sementara enzim akan mati di kisaran suhu panas antara 45˚ - 114˚ celcius. Ini yang menjadi alasan, mengapa memasak makanan sebaiknya tidak menjadi satu-satunya cara santap yang dikenal masyarakat.
Hilangnya Energi Kehidupan
Sayangnya manusia terbiasa hidup didoktrin oleh ketakutan berlebihan pada jasad renik yang mengganggu kesehatan, seperti bakteri, virus, dan parasit semisal. Seseorang menjadi sakit, melulu hal-hal itu dijadikan isu utama pengganggu. Dan cara terbaik diperkenalkan oleh Louis Pasteur, ilmuwan dan ahli kesehatan asal Perancis, dengan memanaskan semua elemen dalam suhu tertentu yang bisa mematikan jasad renik membahayakan dari memasuki tubuh manusia. Termasuk makanan.
Paham ini begitu merasuk dalam masyarakat, sehingga menjadi sebuah keniscayaan mutlak. Apapun yang kita makan dan minum harus dimasak, dipanaskan agar steril dari kemungkinan menimbulkan penyakit. Ironis, mengingat beberapa dari kita sudah mengetahui, enzim dan antioksidan akan rusak dalam suhu panas di derajad tertentu. Kerusakan elemen penting makanan tersebut, membuat kita kehilangan kesempatan meraih energi kehidupan dari makanan. Penangangan ini sebenarnya tidak terlalu keliru bila kita mengacu pada beberapa bahan makanan yang memang perlu proses pemanasan, seperti bahan berbasis daging-dagingan, pasta, tepung-tepungan atau makanan prosesan lain. Hanya saja, pengetahuan terkini umumnya sudah mengetahui makanan seperti ini bukan makanan alami bagi sistem cerna manusia. Rutin mengkonsumsi melulu bahan tersebut, akan membuat kesehatan berangsur menurun dari waktu ke waktu. Jangan heran bila dulu kita mengenal penyakit usia lanjut yang kini sudah diderita orang dalam usia yang jauh lebih muda. Bisa jadi ini adalah manifestasi minimnya energi kehidupan yang bisa diserap dari makanan.
Mungkin saja secara teori makanan tersebut berlimpah kalori, tapi unsur penting lainnya seperti enzim, antioksidan, mineral, vitamin, dan lainnya yang juga tidak kalah penting, sudah rusak oleh proses pemanasan yang dijadikan kewajiban. Terlepas dari fakta bahwa tubuh manusia sebenarnya sudah memiliki pertahanan berlapis yang bisa menangkal serangan jasad renik dalam jumlah normal. Rutin mengkonsumsi makanan dimasak akan membuat kemungkinan vitalitas tubuh yang sebenarnya bisa diadopsi dari makanan segar tumbuhan alami menjadi terampas begitu saja.
Menyerap Energi Alam
Bersyukurlah menjadi orang Indonesia, atau setidaknya hidup di kawasan Asia Tenggara, yang lahannya subur dan diberkahi cahaya mentari sepanjang tahunnya. Betapa mudah Anda menyerap energi alam dalam beragam bentuk, enzim dan antioksidan melimpah yang tersedia dalam makanan beragam tumbuh-tumbuhan. Beberapa daerah di Indonesia malah mengenal budaya kuliner elementer yang sangat memudahkan penyerapan energi tersebut, makan sayuran segar sebagai lalapan.
Pelaku pola makan sehat seperti Food Combining (FC) bahkan memiliki ritual khas yang memudahkan mereka menyerap energi alam dengan secara ekslusif, mengkonsumsi buah sayuran segar sebagai sarapan! Betapa indahnya saat pagi, di saat memulai hari, kesegaran buah sebagai berkah alam bagi kehidupan menjadi unsur makanan pertama yang memasuki tubuh. Buah yang disyaratkan dalam pelaku FC pun sangat sederhana, berair, berserta, serta manis karena matang sempurna. Pelaku FC juga dikenal sangat mendahulukan menyantap buah sekitar sebagai bentuk kearifan lokal serta penyerapan energi alam dalam bentuk terbaiknya, sesegar mungkin.
Dalam bentuk lain, pola makan yang lebih ekstrim dan relatif lebih sulit dilakukan, seperti Plant Based Diet dan Raw Food juga mensyaratkan kesegaran buah dan sayuran sebagai unsur kuat yang disantap dalam keseharian. Jendela toleransi mereka mungkin lebih sempit dan sulit ketimbang pola makan FC, tapi bisa jadi hasil perbaikan yang ditawarkan lebih cepat dan signifkan bagi kesehatan. Sebagai contoh, limpahan enzim seperti telah dibahas sebelumnya bisa jadi menjadi penyebab utama di sisi ini.
Meminimalisir makanan berbasis tumbuhan yang dimasak membuat Anda mampu mengurangi paparan radikal bebas yang mengurangi faktor kerusakan sel-sel tubuh. Di sisi lain juga memudahkan kita menyerap limpahan energi alam dalam kehidupan. Kombinasi ini membuat hidup sehat itu mudah serta murah untuk dilakukan, dan berujung mendapatkan kualitas hidup yang sangat maksimal.




Comments
Post a Comment