Kenapa Melarang Ibu Saya, Seorang Penderita Kanker, Konsumi Daging?


“Anda melarang ibumu makan daging?” Tanya salah seorang ahli kesehatan dalam satu kesempatan saat saya mengisi sebuah acara kesehatan. “Iya, karena dia penderita kanker” Jawab saya. “Anda nekat! Kalau ibu Anda dilarang makan daging, bagaimana caranya sel-sel baru tubuhnya bisa terbentuk? Proteinnya didapat dari mana?” Tukasnya agak emosional.

Tanpa menjawab langsung, saya lalu mengambil sepotong irisan wortel dari mangkuk sup yang saya makan. Lalu saya tunjukkan ke beliau sembari menjelaskan, “Kalau ini tidak mengandung protein, dia bisa jadi akan berbentuk seperti gas yang melayang-layang di udara” Saya tersenyum sebelum melanjutkan “Dan ini bisa jadi sumber protein yang sangat baik bagi penderita kanker seperti ibu saya”

Sambil tetap tersenyum saya sudahi pembicaraan dengan meninggalkan ahli kesehatan itu. Mungkin dia juga tidak bisa menerima penjelasan saya dengan baik. Tapi saya tidak terlalu peduli. Yang jelas ibu saya, penderita kanker paru stadium 4A, walau dulu divonis usianya hanya tersisa dalam hitungan bulan saja. 

Dengan pola makan baru yang dia jalani, beliau sudah mengubah prediksi bulan tersebut menjadi tahun. Dan tahun itu pun bukan sekedar memperpanjang usia belaka, tapi menjadi tahun-tahun di mana ia tetap produktif berkarya, walau usianya sudah tergolong sangat tidak muda lagi. 


Memberi Makan Sel Kanker

Salah satu doktrin paling menyesatkan tentang protein hewani dan penderita kanker adalah “Kalau berhenti makan daging, bagaimana sel baru tubuh akan terbentuk?” 

Berangkat dari pemahaman bahwa protein adalah zat pembangun mendasar dalam tubuh manusia, sementara penderita kanker diharapkan mampu mengganti sel rusaknya dengan sel sehat baru. Mengeliminir protein hewani ditakutkan bisa merusak suplai zat penting pembangun sel baru tubuh. Benarkah? Keliru total!

Yang harus diingat di sini, mengkonsumsi protein hewani bukan berarti tubuh akan mengambil protein tersebut lalu diubah menjadi pembentuk sel. Tidak sesederhana itu. 

Protein hewani dikonsumsi, diserap, lalu dipecah-pecah dulu oleh tubuh dalam rangkaian bentuk yang lebih sederhana, disebut dengan istilah asam amino, lalu rangkaian pecahan tersebut disusun ulang agar bisa digunakan tubuh sesuai kebutuhan. Ingat saja pada permainan mengubah-ubah susunan lego. Logika sederhana itu bisa dipakai. 

Berita buruknya asam amino dalam protein hewani tergolong kompleks dan sulit dirangkai ulang tubuh, dibanding protein yang dari sumber nabati. 

Kesulitan merangkai tersebut menghasilkan semacam ‘sampah’ atau unsur yang cacat dalam sel. Akibatnya walau relatif mudah membentuk sel baru dengan mengkonsumsi protein hewani, bukannya mendapatkan sel baru yang sehat, sel tersebut justru sel bermasalah yang relatif mudah ‘diubah’ menjadi anggota baru pada jaringan sel kanker yang sudah ada.

Berdasarkan pemahaman itu, walau tidak bersifat seperti gula yang bisa menjadi bahan bakar langsung sel kanker, namun tidaklah keliru bila salah satu pakar kesehatan dunia mengatakan mengkonsumsi protein hewani, apalagi dalam jumlah banyak, bagi penderita kanker sama saja seperti ia memberi makan sel kankernya untuk berkembang biak lebih mudah. 


Memudahkan Sel Kanker Berkembang

Setiap sel dalam tubuh mengandung zat kimia yang berisikan peta tubuh beserta fungsi-fungsinya, asam deoksiribonukleat (deoxyribonucleic acid), kita mengenalnya dengan nama populer DNA. 

Proses rumit dari protein hewani serta lemaknya yang melahirkan ‘sampah’ dalam sel, dapat merusak DNA sel tubuh dan rentan mengubahnya menjadi sel kanker. 

Darah mengandung sel darah putih serta limfosit yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh. Mereka memiliki tugas menyerang serta menghancurkan bakteri, virus, atau zat renik apapun yang dianggap membahayakan tubuh. 

Efek turunan dari sel bermasalah yang lahir dari rutinitas konsumsi protein hewani, membuat sel-sel pertahanan tubuh menjadi tidak berfungsi seperti semestinya. Mekanisme pertahanan tubuh yang paling diandalkan ini tidak berdaya mencegah terbentuknya sel-sel abnormal yang rentan berubah menjadi sel kanker.

Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa penderita kanker walaupun telah menjalani pembuangan bagian tubuh yang dicurigai memiliki sel radikal ganas, tetap mendapati dirinya memiliki sel kanker baru di tempat lain. Karena kebiasaan makannya tetap memudahkan sel kanker untuk terus berkembang biak dalam tubuhnya.


Beban Bagi Tubuh 

Energi dalam jumlah besar dibutuhkan untuk mencerna makanan. Itu sebabnya dalam ritme sirkadian, penyerapan makanan berlangsung di jam produktif manusia, antara pukul 12.00-20.00. Karena di situ jam aktif kehidupan manusia. Namun mengkonsumsi protein hewani dalam jumlah banyak, yang secara kodrati tidak terlalu sesuai dengan sistem cerna manusia, memberikan beban energi yang lebih besar lagi dari seharusnya. 

Dari sisi panjang usus manusia semisal. Jarak tempuhnya terlalu panjang bagi protein hewani yang relatif lebih mudah membusuk. 

Limbah yang berlebihan dan sulit dicerna serta tidak terserap sepenuhnya dihasilkan dari protein yang mengalami pembusukan dalam usus. 

Limbah tersebut juga relatif beracun dan dianggap berbahaya oleh tubuh, sehingga dialokasikan sejumlah energi dalam jumlah besar untuk mengenyahkan racun tersebut. Hati (lever) sebagai organ yang bertanggung jawab terhadap metabolisme tubuh manusia menerima beban terberat dalam proses ini.

Bila hal ini berlangsung terus menerus tubuh akan mengalami kisruh penempatan energi secara proporsional. Kondisi yang membebani ini akan memudahkan proses munculnya sel kanker. Atau bagi orang yang sudah menderita kanker kondisi ini akan menjadi semakin parah. 

Protein hewani walaupun memiliki kandungan asam amino esensial yang lengkap, tapi sejatinya ia tidak cocok dikonsumsi oleh manusia. 

Bagi manusia bentuk gigi, karakter lambung, panjang usus, cara kerja pergerakan makanan dalam usus tidak memfasilitasi konsumsi protein hewani secara rutin. Manusia lebih cocok mengkonsumsi protein yang terdapat dalam tumbuhan. Yang bisa diambil dari biji-bijian, sayuran, dan buah yang berkarakter padat.


 

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ibu Saya & Kanker Paru-parunya

Tentang Diabetes dan Hidup Normal

BERAS PUTIH SI PEMBAWA PETAKA