Hidup Penuh Arti Bukan Asal Tunggu Mati
“Ngapain sih repot-repot jaga makan?” tukas seorang teman satu saat. Saya hanya memandang dia tanpa berkata apa-apa. “Makan ya makan aja” Ia menyerocos melanjutkan. Akhirnya saya membuka suara, “Elu gak takut sakit?” Dia menukas dengan wajah meremehkan “Ah semua manusia pasti sakit, ujung-ujungnya bakalan mati juga!”
Paparan teman saya itu membuat saya merenung sesaat. Dia tidak terlalu salah. Sebagai anak seorang dokter yang pernah mengepalai ruang intensive care unit atau rawat intensif di sebuah rumah sakit swasta terbesar di masanya. Pemandangan orang sakit parah menunggu waktu meregang nyawa tanpa daya adalah rutinitas yang biasa dijalani. Saking seringnya saya mengira bahwa semua itu adalah siklus manusia yang wajar untuk dilewati.
Yang mengganggu dari ucapan teman saya itu adalah fakta bahwa saat seseorang mati, ia tidak sadar bahwa proses meninggal dunia sering kali tidak dijalani sendirian. Seringkali ia, sebagai bagian dari mahluk sosial, akan menginisiasi reaksi sosial sekitar untuk turut terlibat. Kalau sekedar mengurusi saat meninggal sih wajar, tapi apa yang terjadi saat secara sosial saat sakit pun ia sudah merepotkan sekelilingnya? Tidak hanya kesedihan, tapi merengut waktu orang banyak, bahkan menyeret ke masalah ekonomi serius bagi keluarganya.
Benarkah kita hidup hanya sekedar menunggu kapan kita mati? Lalu pasrah menjalani? Berjudi dengan kemungkinan apapun yang menanti? Bila beruntung, hidupnya akan berakhir dengan sederhana tanpa penderitaan panjang sebelum mati. Demikian juga sebaliknya. Tapi apakah dengan atau tanpa penderitaan panjang sebelum meninggal dunia itu adalah murni masalah keberuntungan nasib semata?
Penyakit Bisa Dihindari Asal Bisa Mengendalikan Diri
Mereka yang bersikap apatis terhadap upaya menjaga kesehatan seringkali juga mereka yang menganggap bahwa pola teratur dalam menjalani hidup adalah membosankan serta membelenggu. Mereka mengira bahwa rasa tidak nyaman, tidak sehat yang rutin dialami adalah sesuatu hal yang mustahil dihindari. Mereka menerima itu sebagai semacam takdir yang harus dijalani. Akhirnya mereka terjebak dalam siklus lingkaran setan yang membuat masalah seakan tidak ada jalan keluar.
Tidak banyak yang menyadari, atau sekedar berusaha melihat kemungkinan, bahwa masalah yang mereka hadapi adalah akibat gaya hidup sehari-hari. Apa yang dimakan membuat masalah, apa yang diminum membuat derita. Variabel ini tidak banyak ditoleh oleh kebanyakan orang sebagai hal yang menjadi biang keladi. Anda rutin makan junk food semisal, makanan yang miskin serat serta merta membuat masalah sembelit menjadi otomatis. Semakin lama masalah yang ditimbulkan semakin serius. Kotoran yang seharusnya terbuang dari tubuh, menumpuk, membusuk, dan kembali diserap oleh tubuh. Akibatnya fungsi tubuh menjadi terganggu. Anda pun menjadi tidak nyaman, tidak sehat, serta secara psikologis uring-uringan.Kendala kesehatan akibat kurang pengendalian diri seperti ini memang lahir dari beragam variabel masalah. Salah satu yang paling ingin saya singgung adalah rendahnya pendidikan kesehatan yang mengacu pada satu kalimat sederhana “Bila kita bisa mengendalikan diri, banyak penyakit bisa dihindari” Kenapa hal ini layak disinggung? Karena ilmu mengendalikan diri yang amat erat kaitannya dengan merawat kesehatan serta mencegah penyakit amat rendah nilai edukasinya di masyarakat. Kebanyakan orang mengandalkan ahli kesehatan seperti dokter untuk mengurus masalah demikian. Sayangnya hal ini menjadi kelemahan besar untuk para dokter sendiri, orientasi yang lebih pada pengobatan atau penanganan kesehatan secara agresif, membuat cara melihat penyakit dan kesehatan hanya terfokus pada satu sisi. Bukannya beragam.
Melulu bicara pengobatan, bukan pencegahan, apalagi perawatan adalah masalah klasik yang membuat semuanya terasa sulit. Sebagai anak dan cucu dokter, saya tahu persis profesi ini sendiri tidak menjamin mereka terbebas dari penyakit. Memang manusiawi, bila seseorang sakit, tapi orang yang bertanggung jawab atas kesehatan orang lain seringkali jatuh sakit oleh penyakit yang kaitannya erat dengan keteledoran menjaga gaya hidup, buat saya itu adalah kesalahan besar! Jangan heran bila masalah kesehatan menjadi berlarut-larut di masyarakat. Sehingga siklus hidup yang sekedar menunggu mati adalah sesuatu yang (seakan) tidak bisa dihindari.
Kualitas Hidup Untuk Lebih Menghargai Hidup
Keengganan menjalani hidup sehat dipicu oleh banyak hal. Salah satu yang paling umum menjadi penyebab adalah kegagalan saat berkomitmen menjalani sebuah pola baru di luar kebiasaan yang biasa dijalani. Saya sering mendengar seseorang mengeluhkan upaya hidup sehatnya yang gagal akibat berat tubuhnya tidak turun-turun. Ada yang menyerah saat harus berdisiplin melakukan beragam hal baru sebagai sebuah rutinitas.
Sejatinya tubuh manusia mengalami pergantian sel secara total dalam waktu 120 hari. Bila Anda memulai hidup sehat, cobalah untuk konsisten paling tidak selama 4 bulan tersebut. Sel-sel tubuh manusia biasanya sudah ‘merekam’ kebiasaan baru tersebut sebagai bagian rutin hidup yang harus dijalani. Dan segalanya akan terasa lebih mudah.Di sisi lain umumnya mereka yang merasakan perubahan secara signifikan akan enggan kembali ke gaya hidup lama yang terbukti selama ini sudah menyusahkan. Di sisi lain, bila Anda mencoba pola makan sehat selama 4 bulan dan tidak merasakan perbaikan secara signifikan, bisa jadi pola makan tersebut tidak benar-benar sehat. Di sini Anda juga harus bisa membedakan, sehat secara hakiki, dan terkecoh oleh hal semu semisal seperti berat badan turun.
Menjalankan hidup sehat secara disiplin penuh komitmen, dan mendapatkan hasil positif darinya sering mengubah seorang individu menjadi lebih baik. Mereka yang getir dan sengit menghadapi kehidupan karena merasa tidak nyaman dengan tubuhnya acap mendapati kondisi sehat itu membuat cara memandang hidup menjadi jauh lebih positif. Dari contoh konkrit yang sudah disebut di awal, mereka yang acap mengalami sembelit, sering menjadi uring-uringan. Mudah tersulut emosinya, bahkan untuk masalah ringan sekalipun. Namun saat pola makan diubah dengan banyak mengkonsumsi buah serta sayuran segar yang kayak serat, masalah sembelit menghilang, dan acap tanpa disadari mereka menjadi manusia yang lebih baik secara menyeluruh. Masalahnya tetap sama, tapi cara menyikapinya yang berubah terbalik. Karena tubuh memiliki kualitas yang jauh lebih baik.
Konsumsilah makanan yang baik, minumlah air putih yang berkualitas, bergeraklah sesuai kebutuhan tubuh, istirahat yang cukup, dan lakukan hal-hal positif yang membuat hidup Anda lebih baik serta berguna bagi sesama. Kualitas hidup yang didapat akan membuat seseorang mengerti makna hidup lebih hakiki. Apapun yang Anda pilih, menjadi lebih spiritual, lebih mencintai sesama, lebih berguna bagi alam semesta, semuanya akan terasa mudah untuk dijalani dan indah. Yang jelas hidup itu bukan sekedar menunggu atau memperpanjang masa untuk kemudian mati tidak berdaya.



Comments
Post a Comment