Sekedar Sembuh Lalu Menderita Kemudian


Mendapatkan berita satu orang kenalan meninggal dunia. Ia mangkat karena penyakitnya. Yang menyedihkan adalah ia cukup aktif mendeklarasikan dirinya sebagai orang yang sukses sembuh dari penyakitnya. Apakah sembuh menyedihkan? Tentu saja tidak. Tapi sekedar menghilangkan penyakit dari tubuh, bukan berarti seseorang sudah sehat. 

Tanpa upaya yang kuat, tubuh yang pernah sakit masih rentan menjadi tempat potensial bagi penyakit lamanya kembali lagi. Bisa jadi kembalinya lagi dengan kekuatan yang lebih mematikan. Dan yang menyedihkan kembalinya itu kadang disertai penderitaan berkepanjangan.

Orientasi hidup sehat seharusnya bukan melulu mengira bahwa sekedar tidak sakit atau bahkan sembuh dari sakit adalah segalanya. Hidup sehat ya seharusnya mengarah kepada menjadi sehat terus-terusan, bukan asal tidak sakit tapi sebenarnya menderita berkepanjangan. 


Orientasi Kesehatan Yang Salah

Apa yang terjadi umumnya saat orang menderita sebuah penyakit? Keluh kesah mengapa mereka bisa tertular, terjangkit atau terkena penyakit. Saat penyakit itu berat, keluh kesah itu berubah menjadi sikap mengutuk masalah genetik, menerima penyakit sebagai cobaan, niat kuat mengenyahkan penyakit dengan cara apapun, atau segudang cara bersikap lainnya. 

Orientasi demikian seringkali tidak tepat dan pada tempatnya. Tidak banyak yang melihat penyakit sebagai introspeksi dan mengkoreksi kesalahan hidup. Bahwa apa pun penyakitnya, bukan melulu kita melihat kenapa sebuah penyakit bisa menyerang, tapi lebih ke sisi kelalaian apa yang dilakukan hingga penyakit tersebut bisa membuat kita sakit?

Bila orientasi kesehatan sudah masuk di level itu masalah jadi lebih mudah. Masalahnya pola berpikir itu sudah terkubur lama, sejak kita mendewakan konsep mengobati penyakit ketimbang merawat kesehatan untuk mencegah penyakit. 

Pola pikir ini begitu menyesatkan, bahkan langkah pertahanan tubuh pun sering kita anggap sebagi bentuk penyakit itu sendiri. Batuk semisal, bukannya melihat sebagai upaya tubuh mengeluarkan apapun yang mengganggu di sistem pernafasan, kita umumnya melihat itu sebagai sebuah gangguan. Jadi diminumlah obat batuk untuk mengenyahkan langkah pertahanan itu agar tidak mengganggu keseharian. Saat batuk tersebut hilang, apakah masalah juga hilang? Belum tentu, bisa jadi penyebab kenapa bisa terkena masalah pernafasan masih ada. Bahkan bisa jadi apa yang harus dibuang belum tuntas dibuang.  Dan menanti menyerang lagi di kesempatan lain.

Hal sama berlaku saat kita terkena demam, diare, dan lain sebagainya. Bukannya memfasilitasi sistem pertahanan tubuh mengatasi masalah, kita malah mensabotase upaya pertahana tubuh itu sendiri. Hal ini bila terakumulasi dalam jangka waktu lama, masalah lanjutan akan hadir dalam skala lebih besar. Batuk yang dihentikan akan menghadirkan problem pernafasan serius masa depan, diare dimampatkan akan menjadi problem pencernaan mematikan, atau demam diturunkan akan membuat tubuh kehilangan daya tahan secara permanen di suatu waktu. Bisa dilihat logika asal sembuh seperti itu seperti menabung masalah yang akan menuaikan penderitaan?


Serius Berkomitmen Hidup Sehat

Bukan hak saya untuk mencampuri kehidupan kesehatan kenalan yang meninggal di awal tulisan ini tadi. Tapi andai ia bertanya, saya akan mengatakan deklarasi sembuh dari penyakit sebaiknya tidak menina bobokkan dirinya. Ia harus serius melakukan hal lain yang lebih krusial. Yaitu komitmen pada upaya hidup sehat! 

Jatuh sakit itu bukan kutukan, apalagi hukuman dari Tuhan. Umumnya penyakit adalah akumulasi kesalahan menahun yang dilakukan oleh pemilik tubuh. Bisa jadi seseorang lahir dengan kelemahan genetika di satu sisi tertentu, tapi dengan hidup sehat terjaga, kelemahan genetika itu sangat mungkin tidak bisa diekspos oleh penyakit. 

Saya kenal banyak orang yang sakit, lalu sadar, dan berkomitmen hidup sehat menjalani kehidupan masa kini yang jauh lebih baik ketimbang mereka yang bertahun-tahun ‘merasa’ sehat, lalu di satu titik jatuh sakit dan kemudian menderita berkepanjangan. Kenapa? Karena yang belakangan tidak memiliki kesadaran bahwa kesalahan ada di tangan mereka dalam menjalani kehidupan.

Makan sehat itu bukan beban, itu investasi jangka panjang. Hidup penuh komitmen kesehatan bukan beban, tapi juga investasi jangka panjang untuk menjalani hidup yang penuh kualitas hingga waktu kita di dunia ini selesai sesuai ketentuan sang Pencipta.

 

Comments

  1. Konsep kapitalis yang diusung dalam penanganan kesehatan menyebabkan biaya tinggi, orientasi preventif kurang diperhatikan, yang hanya menghilangkan penyakitnya tanpa melihat dampaknya..yang untung lagi para kapital pengusaha kesehatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya bisa ke arah situ sih.. Tapi bukan kapasitas saya untuk membahas hal demikian

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tentang Ibu Saya & Kanker Paru-parunya

Tentang Diabetes dan Hidup Normal

BERAS PUTIH SI PEMBAWA PETAKA