Rutin Minum Susu Jangan Minta Sehat

Seseorang bertanya tentang susu kepada saya, “Emang bener minum susu gak boleh?” Saya hanya tertawa “Apa hak gue melarang?” Teman saya merubah pertanyaan “Susu minuman sehat?” Kali ini sambil mengucap pendek saya menjawab “Minum susu sering jangan minta sehat” Ia ikutan menggeleng tapi lalu menjawab dengan nada penuh kefrustasian “Padahal suka banget minum susu” Tapi dia kemudian menyambung kalimatnya. “Iya nih, muka jadi jerawatan waktu rutin minum susu lagi” Saya tidak menjawab lagi hanya memperlihatkan raut wajah yang seakan berkata

Gue bilang juga apa!”


Susu Adalah Makanan Awal Mamalia

Sebelum bicara lebih jauh, tentang susu, kita harus membicarakan hal paling mendasar tentang fungsi susu itu apa? Sering pertanyaan ini dijawab dengan jawaban yang keluar dari pakem, “Untuk mendapatkan kalsium”, “Menguatkan tulang” dan lain sebagainya. Jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan. Fungsi dasar ya fungsi utama, semisal kursi ya fungsinya di awal untuk tempat duduk. Bukan untuk makan, bukan untuk membaca, bersantai dan lain sebagainya. 

Fungsi dasar susu, sejatinya adalah makanan. Tapi bagi siapa? Bagi mahluk hidup penghuni kelas mamalia. Makanan yang diberikan oleh induk bagi anaknya yang belum bisa mengkonsumsi makanan berat atau yang dicarinya sendiri. Saat anak baru lahir, bayi, induk mamalia akan memiliki kemampuan  mengeluarkan susu dalam periode tertentu. Susu itu yang jadi pengganti makanan serta pemenuhan kebutuhan sang bayi sehingga ia bisa bertumbuh kembang sesuai perjalanan waktu.

Susu adalah makanan awal mamalia. Sang Pencipta menganugerahkan induk mamalia dengan komponen susu yang sesuai dengan karakter spesies anaknya secara spesifik. Itu sebabnya susu ibu manusia berbeda komponen dengan susu induk sapi semisal. Dan makanan awal ini tidak bisa sembarangan dipindah-pindah antar spesies tanpa menimbulkan masalah kesehatan.


Susu Bukan Makanan Mamalia Dewasa

Sebagai makanan pertama tentu akan ada perhentian waktu minum susu secara alami bagi mamalia. Waktu di mana makanan tersebut berubah. Hal ini adalah siklus alami, hukum alam. Dengan indah konsep ini digambarkan secara faktual oleh tubuh sendiri. Biasanya induk mamalia akan berhenti menghasilkan susu setelah melewati waktu tertentu. Di sisi lain, anak sebagai penerima susu pun akan mengalami perubahan biologis tdi tubuhnya. 

Untuk memproses susu diperlukan beberapa proses dalam sistem cerna mamalia. Salah satu yang spesifik adalah tubuh memproduksi enzim laktase untuk memecah laktosa, gula dalam susu, agar bisa dimanfaatkan oleh tubuh. Tanpa enzim tersebut, laktosa akan membuat masalah berkepanjangan dalam pencernaan. Seiring perjalanan waktu produksi enzim laktase berangsur menurun dan perlahan tidak signifikan lagi untuk memproses gula susu yang diminum oleh seorang mamalia dewasa. Sebenarnya ini siklus alam yang normal. Alam menunjukkan bahwa itu fase di mana seorang mamalia berhenti minum susu dan berpindah pada makanan yang sesungguhnya akan dia makan hingga masa depan. Jadi jangan heran bila seorang mamalia memaksakan diri minum susu di luar usia wajar, akan terjadi gangguan kesehatan. 

Mereka yang diare pasca minum susu dikategorikan sebagai manusia dengan masalah intoleransi laktosa (lactose intolerance). Hanya saja gangguan tersebut acap disalah artikan dengan melulu identik diare.  Jadi bila diare tidak terjadi, konsep melawan hukum alam dengan minum susu di usia dewasa dianggap tidak terjadi. Padahal tubuh menunjukkan beragam reaksi penolakan seperti berjerawat, gangguan kulit, penyakit sistem cerna di luar diare, daya tahan tubuh buruk, mudah terserang penyakit ringan dari pilek hingga masalah penyakit serius, lalu kemudian di usia dewasa tubuhnya menuai masalah kesehatan besar. 

Konyolnya lagi, sering fase alam penurunan enzim laktase itu dikomunikasikan oleh oknum pihak-pihak berkepentingan sebagai budaya minum susu yang kurang, sehingga tubuh kehilangan enzim penting tersebut. Jadi untuk mengatasinya, diminumkan susu banyak-banyak agar tubuh terbiasa kembali. Melawan hukum alam dengan beragam alasan, jangan heran bila manusia memiliki koleksi penyakit yang selalu terbarukan. 

Itu baru meninjau dari sisi laktase dan laktosa. Pembahasan belum berlanjut ke sisi: 

- Ketidak cocokan tubuh manusia sebagai bagian dari mamalia memproses kasein, protein susu, dari spesies lain

- Sifat susu yang menggumpal, mengecil, saat bertemu asam lambung, sehingga menyulitkan gerakan peristaltik usus dalam memijit makanan bergerak pada manusia dewasa. 

- Ketidak cocokan kandungan mineral seperti kalsium dan magnesium pada susu hewan dan manusia, sehingga menimbulkan beragam masalah kesehatan degeneratif. 

Dan masih banyak lagi masalah yang bisa dipaparkan.


Minum Susu Rutin Jangan Minta Sehat

Sebagian paparan kecil tersebut memperlihatkan fakta bahwa susu bukanlah makanan ideal bagi manusia. Apalagi makanan super. Secara fakta malah mengatakan sebaliknya.  Memaksakan rutin minum susu akan menimbulkan masalah kesehatan, dalam jangka pendek hingga jangka panjang. 

Bagi beberapa orang, minum susu bisa ditoleransi bila kaitannya lebih ke sisi budaya kuliner. Dikonsumsi sesekali, untuk kebutuhan sosial belaka. Entah dalam bentuk asli, susu, atau turunannya seperti keju, es krim, dan sebagainya. Yang sulit adalah bila kebutuhan kuliner sosial tersebut berubah menjadi kebutuhan rutin, apalagi diembel-embeli kebutuhan kesehatan. 

Dengan alasan klasik pertumbuhan dan penguatan tulang, susu sering dikonsumsi secara berlebihan dan dianggap sebagai kewajiban. Tidak heran bila banyak sekali masalah kesehatan muncul sebagai penyerta dan sering tidak bisa dideteksi akar masalahnya apa? Karena susu acap dieliminir oleh beberapa pihak untuk dicurigai sebagai penyebab. Padahal di sisi lain, sudah banyak penemuan yang mengarahkan susu sebagai penyebab beragam masalah kesehatan, dari yang ringan seperti gangguan kulit hingga berat seperti kanker pada usus. Bahkan temuan kamera kolonoskopi rutin menemukan mereka yang menuliskan susu selalu ada dalam menu harian memiliki tampilan usus yang buruk, sangat buruk.  

Fenomena lain yang lebih parah lagi, karena cair dan konten beragam unsurnya tinggi, susu dianggap sebagai makanan kaya gizi yang ringan cerna. Lalu dijadikan minuman bagi orang yang sakit. Biasanya ini menimbulkan masalah kesehatan berkepanjangan. Sudah tubuh menderita sakit, sistem cernanya diberikan beban yang menambah masalah menjadi lebih berat. 

Anda mau sehat? Makan sehatlah dengan konten yang benar dibutuhkan tubuh. Dan bila Anda mengira susu adalah bagian dari konten tersebut, lupakan  saja keinginan menjadi sehat!

Comments

  1. Lantas makanan apa yg ringan cerna bagi yang lagi sakit di ususnya bang?selain susu tentunya,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manusia ya basisnya herbivora, makan sesuai itu

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tentang Ibu Saya & Kanker Paru-parunya

Tentang Diabetes dan Hidup Normal

BERAS PUTIH SI PEMBAWA PETAKA