Puasa Tepat Sel Tubuh Sehat

“Kata elu kalau saat bulan Ramadan kan kita disarankan untuk bangun malam, lalu shalat. Terus sahur juga dini hari sekali” Tanya seorang teman. “Iya terus?” Jawab saya ingin tahu arah pertanyaannya mengarah ke mana? Kata elu kan jam 20.00 – 04.00 itu fase di mana tubuh sedang memperbaiki dan mere.. rerevital?” Saya tersenyum dan mengkoreksi “Merevitalisasi diri” “Nah ya itu, sedang merevitalisasi diri. Berarti selama Ramadan, proses revitalisasi ini terganggu dong? Padahal katanya puasa itu menyehatkan?”

Bagus juga pertanyaan teman saya ini. Membuat saya harus memutar otak untuk menjawab. Dan ternyata saat, merasa, ketemu jawabannya, membuat saya makin bersyukur serta kagum pada rangkaian ritual ibadah yang dibuat oleh Tuhan Yang Maha Esa serta kaitannya dengan kesehatan. 

Tentu ‘temuan’ saya ini berdasar pada faktor fisikal, mungkin sedikit sisi psikologis, bukan dari sisi spiritual atau hukum agama. 


RITME SIRKADIAN MALAM

Yang disinggung teman saya tadi terkait dengan siklus alamiah tubuh manusia. Biasa disebut dengan istilah Ritme Sirkadian, sebuah siklus 24 jam dalam proses fisiologis seorang mahluk hidup. Pembahasan ritme tersebut kali ini terkait dengan kerja sistem cerna. Dimana pembagian kerjanya terbagi antara 3 siklus:

1. Siklus Makan 12.00 – 20.00

2. Siklus Penyerapan 20.00 – 04.00

3. Siklus Pembuangan 04.00 – 12.00

Sederhananya bisa dikatakan seperti ini, selama 8 jam setelah pukul 12.00, tubuh menyiapkan sistem cernanya untuk mengkonsumsi makanan secara serius. 

Setelah itu tubuh mengistirahatkan diri agar energinya bisa digunakan untuk menyerap makanan yang tadi masuk, diproses, digunakan untuk beragam kepentingan. Lalu setelah itu dari pukul 04.00, tubuh akan membuang sisa-sisa limbah yang didapat dari proses yang baru saja dilakukan. 

Dua fase terakhir butuh energi yang cukup besar, terutama energi di siklus penyerapan, itu sebabnya antara pukul 20.00 – 04.00 kita dibuat mengantuk agar alokasi energi tubuh tidak terpecah dan bisa dipusatkan untuk kerja penyerapan.

Lalu bagaimana dengan pertanyaan teman saya tadi? Di mana ritual Ramadan yang menyarankan banyak ibadah malam bertabrakan dengan waktu siklus serap? Kemudian sahur di mana kita harus makan pada saat sistem cerna sebenarnya sedang diistirahatkan untuk menerima makanan berat? 

Di sini indahnya hubungan antara ibadah puasa dan kesehatan bisa dielaborasi lebih jauh. 


PUASA MELIMPAHKAN ENERGI PADA SEL

Tidur, dan metabolisme besar yang terjadi di dalamnya, memang bisa jadi terganggu dengan ritual Ibadah malam serta sahur saat Ramadan. Tapi sebenarnya ada kompensasi lain menanti kita saat melakukan puasa belasan jam setelahnya, rasa lapar terkendali yang akan mengaktifkan kerja sel tubuh. 

Saat kita lapar, ada aktivitas unik terjadi dalam sel. Dari penelitian seorang ahli cytologist (cabang keilmuan yang mempelajari sel) terkemuka dunia Christian Du Duve , ditemukan fenomena substansi bernama Lysosome (lisosom)  yang berfungsi mendaur ulang tumpukan sampah dalam sel. 

Hasilnya kemudian dipergunakan untuk mengalokasi ulang nutrisi ke proses lain yang lebih berguna untuk tubuh. Proses ini bernama Autofagi, secara sederhana didefinisikan sebagai kemampuan tubuh membuang bagian yang tidak berfungsi baik dan menjadikannya sebagai energi baru bagi sel.

Dengan kata lain, ibadah malam Ramadan yang bertabrakan dengan waktu tidur, di mana sedang tubuh merevitalisasi diri, malam hari digantikan oleh aktivitas lanjutan Ramadan lain yang tidak kalah berharganya. Puasa yang menguatkan sel-sel tubuh. 

LAPAR NAMUN SEGAR 
Jadi jangan heran, seperti sudah saya sering paparkan sebelumnya. Bila puasa dilakukan benar, saat lapar menyerang, malah ada semacam sensasi perasaan bersemangat, berbahagia bahkan rasa segar yang dialami seseorang. 

Ini bisa jadi akibat dari proses peningkatan energi yang terjadi dalam sel. Mungkin saja ini salah satu sebabnya lebaran atau hari raya Idul Fitri sering dikaitkan dengan lahirnya sebuah sosok manusia yang baru. 

Bisa jadi karena triliunan sel-sel tubuhnya telah tersegarkan dan menjadi seperti baru lagi. Revitalisasi dalam artian kata sesungguhnya, mengembalikan vitalitas sel secara mikro serta tubuh secara makro.

Apakah ritual ini hanya terjadi saat Ramadan? Bagaimana dengan hari-hari di luar bulan suci tersebut? Bukankah pola makan kita biasa jauh dari memelihara rasa lapar? Bisa jadi ini alasan kenapa ada perintah melakukan puasa sunnah, yang tidak wajib tapi diberi pahala bila dilakukan. 

Ada beragam jenis puasa sunnah yang umum dikenal, ritual puasa syawal, puasa senin-kamis, hingga puasa yang dicontohkan oleh nabi Daud AS. 

Sangat mungkin bila semua puasa sunnah tersebut memiliki fungsi dari sisi fisik yang dapat membuat tubuh menjadi terbarukan setiap saat untuk mengantisipasi pola hidup harian seseorang. Tentu! 

Dengan catatan, bila elemen-elemen puasa tersebut dilakukan secara baik dan benar sesuai aturan.



Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ibu Saya & Kanker Paru-parunya

Tentang Diabetes dan Hidup Normal

BERAS PUTIH SI PEMBAWA PETAKA