Puasa Tepat Sel Tubuh Sehat
Bagus juga pertanyaan teman saya ini. Membuat saya harus memutar otak untuk menjawab. Dan ternyata saat, merasa, ketemu jawabannya, membuat saya makin bersyukur serta kagum pada rangkaian ritual ibadah yang dibuat oleh Tuhan Yang Maha Esa serta kaitannya dengan kesehatan.
Tentu ‘temuan’ saya ini berdasar pada faktor fisikal, mungkin sedikit sisi psikologis, bukan dari sisi spiritual atau hukum agama.
RITME SIRKADIAN MALAM
Yang disinggung teman saya tadi terkait dengan siklus alamiah tubuh manusia. Biasa disebut dengan istilah Ritme Sirkadian, sebuah siklus 24 jam dalam proses fisiologis seorang mahluk hidup. Pembahasan ritme tersebut kali ini terkait dengan kerja sistem cerna. Dimana pembagian kerjanya terbagi antara 3 siklus:
1. Siklus Makan 12.00 – 20.00
2. Siklus Penyerapan 20.00 – 04.00
3. Siklus Pembuangan 04.00 – 12.00
Sederhananya bisa dikatakan seperti ini, selama 8 jam setelah pukul 12.00, tubuh menyiapkan sistem cernanya untuk mengkonsumsi makanan secara serius.Lalu bagaimana dengan pertanyaan teman saya tadi? Di mana ritual Ramadan yang menyarankan banyak ibadah malam bertabrakan dengan waktu siklus serap? Kemudian sahur di mana kita harus makan pada saat sistem cerna sebenarnya sedang diistirahatkan untuk menerima makanan berat?
Di sini indahnya hubungan antara ibadah puasa dan kesehatan bisa dielaborasi lebih jauh.
PUASA MELIMPAHKAN ENERGI PADA SEL
Tidur, dan metabolisme besar yang terjadi di dalamnya, memang bisa jadi terganggu dengan ritual Ibadah malam serta sahur saat Ramadan. Tapi sebenarnya ada kompensasi lain menanti kita saat melakukan puasa belasan jam setelahnya, rasa lapar terkendali yang akan mengaktifkan kerja sel tubuh.
Saat kita lapar, ada aktivitas unik terjadi dalam sel. Dari penelitian seorang ahli cytologist (cabang keilmuan yang mempelajari sel) terkemuka dunia Christian Du Duve , ditemukan fenomena substansi bernama Lysosome (lisosom) yang berfungsi mendaur ulang tumpukan sampah dalam sel.
Hasilnya kemudian dipergunakan untuk mengalokasi ulang nutrisi ke proses lain yang lebih berguna untuk tubuh. Proses ini bernama Autofagi, secara sederhana didefinisikan sebagai kemampuan tubuh membuang bagian yang tidak berfungsi baik dan menjadikannya sebagai energi baru bagi sel.
Dengan kata lain, ibadah malam Ramadan yang bertabrakan dengan waktu tidur, di mana sedang tubuh merevitalisasi diri, malam hari digantikan oleh aktivitas lanjutan Ramadan lain yang tidak kalah berharganya. Puasa yang menguatkan sel-sel tubuh.Apakah ritual ini hanya terjadi saat Ramadan? Bagaimana dengan hari-hari di luar bulan suci tersebut? Bukankah pola makan kita biasa jauh dari memelihara rasa lapar? Bisa jadi ini alasan kenapa ada perintah melakukan puasa sunnah, yang tidak wajib tapi diberi pahala bila dilakukan.
Ada beragam jenis puasa sunnah yang umum dikenal, ritual puasa syawal, puasa senin-kamis, hingga puasa yang dicontohkan oleh nabi Daud AS.
Sangat mungkin bila semua puasa sunnah tersebut memiliki fungsi dari sisi fisik yang dapat membuat tubuh menjadi terbarukan setiap saat untuk mengantisipasi pola hidup harian seseorang. Tentu!
Dengan catatan, bila elemen-elemen puasa tersebut dilakukan secara baik dan benar sesuai aturan.



Comments
Post a Comment