Nikmat Puasa Maksimal Tanpa Minum Teh
“Gue gak minum teh selama Ramadan, dan nikmat puasanya maksimal luar biasa sekali!”
Lucu juga teringat pertama kali saat ia mengeluh problema puasa pada saya, dan mendengarkan masukan apa saja yang bisa serta sebaiknya tidak dilakukan, dia protes keras saat mendengar tentang teh.
“Wah gimana caranya puasa gak minum teh? Lu kemana-mana ketemunya sama teh, apalagi yang anget” Salah satu bentuk protes kerasnya. Tapi karena dia melihat saya tidak mengalami perubahan berarti selama melakukan puasa, dia tertarik untuk mencari tahu. Dan memang luar biasa efek yang dirasakannya
“Gue cuma fokus untuk minum air putih yang bagus, sesekali minum air yang biasa disajikan saat buka puasa, seperti kelapa muda, es buah dan sejenisnya” kata dia. Saya bertanya “Jus buah dan sayur juga bisa kok jadi alternatif. Tapi efeknya apa?” Dia membeliakkan mata antusias, “Rasanya luar biasa sekali, badan enteng, gak ngantukan, dan beneran mengerti apa kata segar bugar itu seperti apa?”
Ia menambahkan lagi, “Satu yang gue inget dari omongan elu. Banyak hal dalam kehidupan yang kita kira sebagai kebiasaan sehat, sebenarnya tidak lebih dari budaya yang sebenarnya dibiasakan”
Dan secara faktual saya memang memberikan paparan apa saja tentang teh, berikut sebagian di antaranya.
1. Teh mengandung kafein yang mengenyahkan kebugaran
Saat Anda minum kopi, kafein memicu kelenjar adrenal untuk merespons sekaligus memproduksi hormon, salah satunya kortisol.
Semakin banyak kafein yang dikonsumsi, berarti kelenjar adrenal terus aktif dan akhirnya menyebabkan kelelahan kelenjar adrenal. Selain itu, produksi hormon kortisol bisa membuat Anda susah tidur di malam hari dan mengurangi stamina Anda esok harinya.
2. Menguras Cairan Tubuh
Salah satu efek terburuk dalam teh yang merusak kesehatan secara jangka pendek dan panjang adalah sifat diuretikal, penguras cairan tubuh. Dan ini jarang disadari oleh banyak orang. Karena banyak sekali mereka yang minum teh bertujuan mengusir dahaga. Entah diberi es batu sebagai penyejuk, perasan lemon, atau sekedar pemanis tambahan dalam beragam bentuk.
Minum teh sesaat memang sepertinya memberikan efek menyegarkan dan memuaskan karena menghilangkan haus. Tapi pada level sel, tubuh justru merasakan dahaga yang sesungguhnya, karena dipaksa mengeluarkan substansi terpenting, cairan, sebagai kompensasi.
3. Teh Merusak Organ Cerna
Secara citra mungkin kita mengacu pada banyak hal menyenangkan dan menyehatkan dari teh. Sepintas tidak terlihat merusak kesehatan tentunya. Tapi sudah ditengarai dari lama kandungan tanin, pemberi rasa sepat, dalam teh punya efek mengikis selaput lendir pelindung organ cerna.
Itu sebabnya lewat tes endoskopi umum terlihat luka dinding lambung atau organ cerna dialami oleh mereka yang punya kebiasaan minum teh rutin setiap hari.
Bila Anda memiliki problem luka lambung menahun atau yang lebih serius luka pada usus, sebelum menjadi lebih buruk, bisa jadi kebiasaan minum teh ini harus dikoreksi ulang. Terutama bila Anda adalah penggemar minum teh hijau, dengan segala macam alasan.
Kandungan tanin pada teh hijau jauh lebih tinggi daripada kebanyakan teh biasa. Itu sebabnya walau identik dengan kadar antioksidan tinggi serta pencahar, efek samping teh hijau sudah cukup lama diketahui.
Terutama mengurangi kemampuan kerja memijit otot usus, peristaltik, yang berujung pada sembelit di level parah di kemudian hari.
Mungkin banyak orang yang mengernyitkan alis lalu mengaitkan dengan kebudayaan minum teh yang dilakukan oleh suku bangsa Timur seperti Jepang dan Cina dan menganggap apa yang mereka lakukan sebagai indikasi kesehatan.
Yang menarik ahli gastronomi terkemuka Dr. Hiromi Shinya, yang notabene berkebangsaan Jepang, malah menemukan via peneropongan endoskopi banyak sekali masalah pencernaan seperti tukak lambung hingga kanker usus dialami penduduk Jepang, yang bisa jadi terkait dengan kebiasaan minum teh ini.
Mengutip paparan teman saya yang tersadar tadi, “banyak kebiasaan yang kita kira sehat, ternyata tidak lebih adalah budaya yang dibiasakan”




Comments
Post a Comment