Momentum (Menjadi Sehat) Yang Disia-siakan
Bila puasa Ramadan malah membuat berat badan naik, secara kesehatan Anda sebenarnya sudah menyia-nyiakan sebuah momen yang sangat berharga
Berat badan saya umumnya susut sebanyak 4-7 kilogram selama bulan Ramadan. Itu fenomena yang biasa saja. Secara kesehatan pun tidak ada hal negatif yang muncul dari sana. Secara umum semua malah menjadi lebih baik. Tidak seperti diet kebanyakan yang membuat kulit mengusam, mengeriput dan lain sebagainya, kulit saya selama Ramadan tetap elastis, walau berat badan susut. Rekan-rekan saya malah mengatakan kulit wajah saya tampak seperti bersinar dari dalam.. Tubuh saya pun tetap fit, lincah dalam menghadapi keseharian. Puasa memang membuat lapar menjadi terasa di jam-jam menjelang waktu berbuka, tapi tetap berlangsung secara normal, bahkan saya seperti menikmati rasa lapar tersebut dengan kondisi psikologis yang relatif lebih bergembira. Bukan bersungut-sungut atau mudah tersulut emosi seperti orang kelaparan biasanya. Indikasi bahwa tubuh saya meraih momentum positif dengan turunnya berat badan, bukan kebalikannya
Seorang teman melihat fenomena ini dengan heran. Dia malah menyorot kondisi fisiknya yang berlawanan arah. “Gue gak tuh, kalau Ramadan malah berat badan gue naik, apalagi nanti habis lebaran” Saya tertawa, dan bertanya balik “Kayaknya lu pernah ke UGD pas lebaran ya?” Dia tertawa namun menunjukkan mimic terkejut “Wah kok tahu?” Bisa jadi teman saya ini adalah golongan orang yang merugi selama Ramadan.
Bukan kapasitas saya untuk bicara dari sisi spiritual, tapi yang pasti dari sisi fisikal, ia kehilangan momentum berharga untuk memperbaiki kesehatannya.
SISTEM CERNA DIBERI BEBAN BERLEBIHAN
Berat badan yang naik saat Ramadan, mengindikasikan pola makan yang buruk saat bersahur serta berbuka. Waktu bersahur di mana tubuh sedang berada dalam kondisi tidak ideal untuk mengkonsumsi makanan berat, justru oleh orang-orang seperti kawan saya ini ‘dihajar’ dengan beragam makanan yang sulit cerna. Beragam alasan muncul, mulai dari ketakutan akan kelaparan, hingga sahur itu waktu yang sulit untuk makan oleh kareannya harus disiapkan menu enak yang mengundang selera. Padahal waktu sahur yang berlangsung antara pukul 03.00 – 04.30 pagi, tubuh sedang mengalokasikan energinya untuk membuang sisa metabolisme revitalisasi tubuh yang berlangsung saat tidur. Apa lacur, makanan berat yang masuk di jam-jam seperti ini bukannya memberi daya tahan serta kekuatan menahan lapar seperti diharapkan, malah membuat alokasi energi tubuh berantakan.
Walhasil tidak saja gagal memenuhi harapan, banyak bagian dari makanan yang gagal diserap tubuh dan malahan menjadi beban berkepanjangan. Terutama bila kita mengingat, makanan yang diklasifikasikan sebagai enak umumnya sulit dicerna, miskin serat, tinggi lemak, gula, dan beragam sifat buruk lain. Logika serupa juga muncul saat berbuka dengan makanan berat yang kurang lebih memiliki keburukan sama. Walaupun digemari karena rasanya enak atau sekedar umum disantap saat Ramadan. Tubuh yang tidak mengkonsumsi makanan sekian belas jam, mendadak dihujani beragam makanan yang sangat sulit dicerna.Kenapa berat tubuh malah meningkat saat Ramadan? Akumulasi masalah cerna yang tidak pada tempatnya seperti ini dimanifestasikan tubuh dalam beragam bentuk seperti tumpukan kotoran tak bisa dikeluarkan, hingga disimpan dalam bentuk lemak dari sisa kalori yang tidak dimanfaatkan. Semua ini berkait langsung dengan naiknya berat tubuh, yang mau tidak mau juga akan mempengaruhi kualitas kesehatan. Sehingga tidak heran, saat Ramadan berakhir, hari raya Lebaran yang identik dengan beragam makanan enak malah memicu masalah serius yang tidak jarang menyeret ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit.
HILANGNYA MOMENTUM PEREMAJAAN TUBUH
Sudah sering saya tuliskan, rasa lapar yang dialami oleh tubuh saat Ramadan, sebenarnya adalah lapar yang terkendali. Karena kita sudah memperhitungkan kapan saat lapar itu dimulai dan kapan lapar itu diakhiri. Desain rasa lapar seperti ini mengaktifkan sebuah sistem kerja unik dalam sel, yang bisa mendaur ulang sampah dan memberikan energi baru bagi tubuh. Fenomena lapar yang memberi efek positif ini biasa disebut dengan istilah Autofagi.
Proses ini idealnya harus dipelihara dengan cara yang seksama juga. Rasa lapar harus dibuka dengan makanan yang tepat meringankan namun kaya manfaat serta makanan yang serupa saat rasa lapar itu diakhiri dengan berbuka puasa. Sayangnya fenomena bersahur dan berbuka dengan aneka makanan berat mencederai niat puasa melaparkan diri secara terkendali tersebut. Beban makanan berat membuat tubuh mengalami rasa lapar yang tidak sesuai kondisi alami. Itu sebabnya mereka yang melakukan puasa dengan pola konvensional sesuai budaya makan umum, bukannya merasa senang, damai, atau bahkan bahagia saat lapar, mereka malah merasa lapar dalam kondisi tersiksa. Lemah, lemas, sulit berpikir, luar biasa mengantuk, dan segudang rasa menyiksa lainnya. Karena energi tubuh terpakai untuk mengelola kekacauan sistem cerna akibat beban makanan yang berlebihan.Bandingkan dengan pelaku pola makan Food Combining yang biasa bersahur dan berbuka hanya dengan mengkonsumsi buah-buahan, kadang sayuran, segar serta air putih berkualitas, mereka melaporkan suasana puasa yang menyenangkan. Lapar baru terasa di momen yang seharusnya, jelang waktu berbuka. Rasa lapar juga disikapi dengan tenang, dan tetap enerjik menjalani keseharian. Ini karena prinsip autofagi sedang berlangsung dalam tubuhnya. Demikian seharusnya puasa di bulan Ramadan kita lewati, bukan dengan serangkaian ritual makan sahur dan berbuka yang malah membebani tubuh. Akhirnya tujuan dan potensi puasa menjadi terlewat dengan sia-sia.



Comments
Post a Comment