Konsumsi Yoghurt Malah Penyakitan

T: “Gue minum yoghurt pagi, kok malah diare dan sebah seharian ya?”

J: “Lah sapa yang suruh minum?”

T: “Katanya sehat, banyak mengandung bakteri baik, udah difermentasi”

J: “Yang ngomong gue?”

T: “Bukan elu sih”

J: “Lah kok minta tanggung jawabnya sama gue?”

Terkait edukasi tentang realita susu, langsung ada yang menanyakan tentang susu hasil fermentasi, seperti yoghurt. Selama ini memang edukasi yang diberikan adalah produk turunan susu ini sebagai makanan super. Selain protein serta gula susunya sudah ‘dijinakkan’ oleh proses fermentasi. Proses fermentasi di yoghurt membuat produk ini menjadi memiliki laktobasilus, sejenis bakteri, yang bermukim dalam usus manusia. Konon kabarnya demikian

Saya sendiri juga tergolong orang yang percaya dengan doktrin ini, di awal satu waktu dulu. Sebagai pelaku hidup sehat yang gemar berolahraga, yoghurt adalah salah satu alternatif pengganti susu bagi saya yang ‘terobsesi’ mengumpulkan protein harian untuk menambah otot tubuh.

Tapi itu kan dulu


Benarkah Menyehatkan?

Berbekal doktrin tersebut, saya sempat menyebarkan edukasi konsumsi yoghurt sebagai produk super yang bisa menyehatkan. Dengan logika ‘pelemahan’ protein dan laktosa susu  sehingga lebih mudah diserap tubuh serta laktobasilus tadi, saya mengkampanyekan konsumsi yoghurt secara cukup gencar. Dan cukup banyak yang percaya dengan apa yang saya sampaikan. Terutama ditinjau dari sudut pandang pelaku pola makan sehat #FoodCombining (FC) yang dianggap cukup berhasil.

Saya bahkan melanggar sendiri salah satu aturan baku dalam FC, tentang konsumsi buah. Sebagai pelaku pola makan sehat tersebut, saya biasanya patuh pada aturan untuk mengkonsumsi buah secara ekslusif. Tidak mencampurkannya dengan makanan lain. Selain karena efek merusak fruktosa bila tercampur, juga waktu urai buah yang sangat cepat dan tidak sesuai dengan waktu cerna substansi lain. Tapi terkait yoghurt, karena percaya pada doktrin pelemahan protein-laktosa serta kandungan bakteri ususnya, saya melanggar aturan tersebut dan malah menyarankan konsumsi buah bersamaan dengan yoghurt.

Edukasi saya akhirnya ‘kena batunya’ saat beberapa teman yang mengkonsumsi yoghurt gencar sesuai saran saya malahan melaporkan hasil sebaliknya. Ada yang diare, ada yang justru sembelit, ada yang mengeluh asam lambungnya berlebihan, ada yang mengeluhkan aroma tinjanya konsisten menyengat, pertanda apa yang terjadi dalam sistem cerna itu tidak baik dan sehat. Di sini saya mulai ragu dengan doktrin yoghurt itu menyehatkan.

Keraguan saya terjawab saat membaca tulisan Dr. Hiromi Shinya, pakar gastroenterologi (ilmu sistem cerna) mengatakan bahwa temuan peneropongan ususnya mengatakan, tidak ada satupun peminum rutin yoghurt yang memiliki tampilan usus baik. Semua secara pukul rata memiliki tampilan buruk. Ia juga mengatakan laktosa pada yoghurt tidak mengalami pelemahan secara signifikan. Itu sebabnya beberapa penderita sembelit yang melaporkan buang airnya menjadi lebih lancar, menurut beliau sebenarnya itu fenomena diare akibat laktosa yang disalah artikan sebagai pelancar buang air besar.

Di sisi ini, berdasar paparan Dr. Shinya, saya berhenti mempercayai bahwa yoghurt itu menyehatkan. Bila beliau yang telah melihat ribuan isi perut manusia mengatakan demikian, saya tidak punya pilihan lain kecuali percaya.


Belum Tentu Bakteri Baik

Tentang doktrin bakteri laktobasilus yang digadang-gadangkan bisa membantu populasi bakteri baik dalam usus, kita harus melihat dari kacamata yang lebih objektif. Bakteri baik, adalah bakteri alami yang menghuni usus dan memiliki banyak fungsi bagi sistem pencernaan secara khusus dan tubuh secara general. Tapi benarkah bakteri bawaan yohgurt baik

Pertama kita harus mengenal dulu konsep bakteri dalam usus. Di dalam usus manusia, terkonsentrasi secara alami bakteri-bakteri. Komposisinya dikenal secara umum dengan istilah, bakteri baik, netral, dan jahat. Masing-masing memiliki fungi tersendiri. Sebagai catatan, mengatakan dan menganggap bakteri jahat sendiri sebenarnya kurang tepat. Yang pasti ketiganya hidup dalam harmoni. Suasana tubuh sehat membuat harmoni ini terjaga. Pola makan yang buruk dan gaya hidup yang sembarangan membuat harmoni ini terganggu. Bila bakteri baik terdesak oleh populasi bakteri netral serta jahat yang membesar, masalah kesehatan serius menanti. Itu sebabnya propaganda perlunya bakteri baik ditambahkan dalam usus sering dikampanyekan. Termasuk mengkonsumsi yoghurt.

Yang harus diingat, belum tentu bakteri yang dimasukkan dalam tubuh akan bisa masuk secara leluasa. Bakteri adalah bakteri. Saat ia masuk dari luar, tubuh akan mengaktifkan sistem pertahanan tubuhnya. Garis terkuat dari  pertahanan tersebut adalah asam lambung. Saat yoghurt masuk, asam lambung akan diproduksi secara masif dengan usaha untuk mematikan bakteri masuk. Tidak heran bila beberapa ada yang mengeluhkan konsumsi yoghurt membuat produksi asam lambung mereka menjadi tidak terkendali. 

Beberapa produk yoghurt mengklaim bahwa bakteri mereka sangat kuat dan mampu menembus pertahanan asam lambung. Tapi saat masuk dalam usus, apakah benar mereka menjelma menjadi bakteri baik? Tidak ada yang bisa menjamin. Sangat besar kemungkinan mereka malah mengacaukan populasi dan harmoni bakteri usus yang sudah ada. Terutama bila pemilik tubuh memiliki gaya hidup sangat tidak sehat, sehingga harmoni bakteri ususnya sudah kacau dari awal. 

Minum susu  bagi mamalia dewasa, apapun bentuknya, sejatinya bukan untuk kesehatan. Walaupun ia sudah diubah bentuk dan dianggap menjadi sehat sekalipun. Anda sudah dewasa? Katakan tidak untuk rutin minum susu. Termasuk yoghurt!


Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ibu Saya & Kanker Paru-parunya

Tentang Diabetes dan Hidup Normal

BERAS PUTIH SI PEMBAWA PETAKA