Jangan Mengandalkan Obat
Saya merenung sendiri. Apa benar saya senegatif itu? Apakah saya tipe party pooper, pembunuh harapan orang lain? Apa karena saya melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh teman saya dan kebanyakan orang lain yang memiliki pengharapan terhadap sebuah obat?
Penyakit Itu Tentang Gaya Hidup
Lahir sebagai anak dokter, bahkan juga cucu seorang dokter, saya terbiasa ada dalam lingkungan medis sedari kecil. Bahkan saya pun dididik mereka, bisa jadi tanpa sadar, untuk menjadi ahli kesehatan di masa depan. Sebagai anak ahli kesehatan saya terbiasa memiliki akses khusus ke obat-obatan melebihi orang kebanyakan. Beberapa obat yang mungkin sulit didapat, jarang ditemukan di pasaran, bisa saya dapatkan hanya dengan berjalan ke arah lemari penyimpanan obat.
Jangan heran bila logika saya untuk setiap sakit, adalah minum obat sesegera atau bahkan sebanyak mungkin. Mau sakit sekedarnya atau yang lumayan mengganggu. Kebiasaan ini saat diketahui ibu saya, ditegur keras olehnya. “Obat itu basisnya adalah racun, sesuatu yang memberikan beban bagi tubuh, kalau kamu membiasakan diri seperti itu, kamu sudah membuat tubuhmu menderita dari usia sangat muda” Saya terkesiap. Antara percaya dan tidak. Tapi memang frekuensi saya minum obat setelah teguran itu, berkurang. Dan pemahaman saya tentang obat mulai sedikit lebih objektif.
Beberapa tahun kemudian saya merasakan sendiri masalah nyata dari yang ibu saya katakan. Sejak usia 10 tahun, saya sudah didiagnosa menderita penyakit lambung serius. Semenjak saat itu saya minum obat pereda asam lambung secara frekuentif. Saya percaya saja saat dikatakan itu terkait dengan doktrin, “sakit lambung adalah penyakit seumur hidup yang tidak bisa disembuhkan tapi bisa dikendalikan” Mengandalkan antasida, pereda produksi asam lambung, adalah cara mengendalikan tersebut.Tapi apa lacur, setelah belasan tahun mengkonsumsi, bukannya terkendali, penyakit lambung saya malah semakin kurang ajar. Muncul dengan rentang frekuensi yang makin pendek. Dari tadinya muncul dalam hitungan jarak antar bulan, semakin lama menyempit menjadi harian. Dan kondisi kesehatan saya pun makin memburuk.
Singkat cerita, setelah mempelajari pola makan sehat, saya mengetahui bahwa penyakit saya disebabkan oleh gaya hidup (baca pola makan) saya yang sangat buruk. Sesuatu yang telah saya lakukan bertahun-tahun. Yang merusak kesehatan saya adalah makanan yang, bukan sekedar junk food, dianggap normal secara budaya, bahkan dianggap sehat. Saya segera mengubah pola makan, membuang yang tidak perlu dan hanya mengkonsumsi apa yang diperlukan. Setelah itu, saya bukan cuma sembuh. Tapi untuk urusan kesehatan, saya memegang kendali penuh.
Bergantung Pada Obat
Dari hal tersebut saya mempelajari elemen penting terkait masalah kesehatan, “Jangan pernah menggantungkan diri pada obat-obatan” Bukan cuma dari sisi produk farmasi, tapi hal apapun yang terhubung dengan pengobatan. Tindakan medis terutama. Medikasi, pengobatan, atau tindakan infasiv, seperti operasi, bukan jalan keluar sesungguhnya dari sebuah masalah kesehatan. Bisa jadi mereka adalah jalan keluar darurat, tapi bukan solusi permanen.
Banyak dari kita terbiasa dididik dari kecil, bahwa untuk setiap penyakit ada obatnya. Saat Anda batuk, tinggal minum obat batuk, lalu sembuh dan masalah selesai. Anda kena pilek, minum obat influenza, dan semua kembali normal. Demikian pula saat Anda demam, minum obat penurun panas, lalu bangun pagi esok hari pulih seperti sedia kala.Tidak banyak dari kita dididik menyadari bahwa demam adalah mekanisme pertahanan tubuh terdepan, menurunkan suhu tubuh untuk ‘merekayasa’ demam agar dianggap sembuh, bisa jadi mematikan mekanisme pertahanan tubuh. Merusak diri sendiri dan menuai masalah di masa depan.
Kita sering berharap bahwa kesederhanaan konsep minum obat lalu sembuh bisa dihadirkan untuk penyakit-penyakit serius seperti kanker, stroke, gagal ginjal-jantung-lever dan segudang penyakit lainnya. Jangan heran bila penyakit yang sebenarnya terkait gaya hidup itu kemudian menjadi momok yang amat menakutkan mengancam kehidupan masa kini. Dan bila tidak disertai perubahan pola pikir, akan menjadi masalah terus di masa depan.
Hidup sehat itu tidak sesederhana minum obat, sembuh penyakit, dan menjalani hidup seperti sedia kala seakan tidak terjadi apa-apa. Tidak ada konsep obat ajaib, vitamin, suplemen, herbal, yang Anda bisa minum setiap hari lalu Anda seenaknya menjalani hidup sesuka hati. Coba saja lakukan. Dan bersiap-siap ada penyakit mengerikan mengambil kehidupan Anda di kemudian hari.
Komitmen Hidup Sehat
Saya pribadi belum pernah melihat orang yang menggantungkan hidupnya pada obat yang diminum sehari-hari, tapi lalai pada perawatan kesehatan, tidak berujung pada penderitaan di akhir kehidupan mereka. Kerusakan lever, ginjal adalah contoh klasik dari akumulasi obat yang menghujani mereka bertahun-tahun.
Jangan pernah mengira bahwa obat pengontrol gula darah yang diminum rutin oleh penderita diabetes tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Cara mengontrol gula darah terbaik adalah dengan memperhatikan apa yang Anda makan dan minum sehari-hari. Tidak cukup dengan hanya membeli produk, yang diklaim, rendah kalori lalu Anda mengira sudah masuk dalam kategori ‘memperhatikan’.Anda penderita diabetes tapi masih rutin minum kopi dan teh semisal, jangan heran bila gula darah menghantui setiap saat. Sudah merasa menghindari produk tinggi gula, tapi konsumsi protein hewani masih juga tinggi, sehingga mau tidak mau pankreas terus bekerja keras. Akibatnya penderita diabetes menjadi frustasi karena kondisinya tidak membaik, malah memburuk. Hal sama terjadi juga pada penderita darah tinggi, stroke hingga kanker.
Komitmen pada hidup sehat adalah kata kunci dan jalan keluar permanen bila Anda ingin memiliki hidup berkualitas jangka panjang. Memperhatikan apa yang dimakan, memberikan tubuh apa yang diperlukan dan menjauhi apa yang tidak dibutuhkan. Bukan hidup seenaknya, lalu mengandalkan pada obat-obatan atau tindakan pengobatan. Akan ada masa di mana Anda pasti harus membayar harga yang sangat mahal, dan acap membuat penderitaan berkepanjangan bagi diri sendiri dan orang tercinta di sekeliling.




Thank you pencerahannya Mas Eri...God bless πππ
ReplyDeletePuji Tuhan, GBU
Delete